Terbuka akan masukan

dirgahayuindonesiaku.id


Terbuka akan masukan


Bagaimana seorang pebisnis hebat seperti Bob mam pu melepaskan diri dari tampuk kepemimpinan begitu saja? Bagaimana ia mampu percaya pada pegawainya dan mem berikan tanggung jawab besar pada mereka? Jawabannya se derhana. Baik Bob mauun pegawainya, mereka saling percaya dan bersikap terbuka.

Kedua hal tersebut tentunya tidak dicapai dalam waktu singkat, juga tidak tecipta begitu saja. Saat masih mempimpin perusahaannya, Bob membuka diri dan tak pernah segan me nerima umpan balik konstruktif dari pegawainya.

Bob menyadari, bahwa semakin tinggi posisi seseorang dalam perusahaan, semakin kecil kemungkinan ia akan mene rima umpan balik konstruktif mengenai ide-ide, kinerja, atau strategi. Sebab tidak ada pegawai yang ingin menyinggung atasannya, bukan? Padahal tanpa masukan, kinerja seorang akan menurun. Ia mungkin menjadi terisolasi, dan kehilangan peluang mendengar ide-ide baru. Memberi umpan balik men jadi lebih sulit dilakukan karyawan jika Anda bersikap tertutup.

Banyak karyawan yang menahan diri dari memberi fe edback pada atasannya. Kebanyakan dari mereka beralasan bahwa orang-orang dengan kekuasaan formal dapat mempe ngaruhi nasibnya dalam banyak cara. Mereka khawatir tidak mendapat promosi atau bahkan dipecat. Semakin senior sese orang, semakin besar kemungkinan ia memicu rasa takut ini. Apalagi jika karyawan tahu bahwa atasannnya sulit menerima umpan balik negatif.

Sebagai pimpinan perusahaan, Bob tidak pernah min ta dihormati dengan cara menciptakan rasa takut atau tidak nyaman bagi karyawan. Ia bahkan selalu mendorong mereka memberi masukan agaria dan perusahaannya dapat maju dan berkembang.

Sebagai pebisnis, Anda bisa meniru cara Bob mengatur si tuasi sehingga orang merasa nyaman. Anda harus mengubah ketakutan anak buah dengan senantiasa bersikap terbuka. Ka takan pada anak buah bahwa Anda tahu semua orang pernah berbuat kesalahan, termasuk Anda sendiri. Oleh karena itu mereka harus saling memberi tahu kesalahan masing-masing tanpa merasa malu atau terancam. Jelaskan bahwa Anda perlu umpan balik dari mereka untuk terus belajar.

Pada saat yang sama, Anda harus memahami betapa su litnya untuk mendengar umpan balik, terutama umpan ba lik negatif. Manusia sering merasa tertekan ketika orang lain mengkritik, tidak peduli seberapa senior posisi Anda di per usahaan. Namun, Anda tidak bisa membiarkan kecemasan tersebut menghambat Anda. Cobalah lebih terbuka dengan umpan balik atau feedback.

Minta Umpan Balik Terus-Menerus 


Mintalah umpan balik secara teratur, bukan hanya pada waktu rapat. Anda harus menjadi orang yang secara aktif mengumpulkan dan meminta informasi sepanjang waktu. Anda dapat mengatakan pada anak buah, misalnya “Saya tahu bahwa ada tujuan yang kita tetapkan bersama-sama. Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda men capai tujuan tersebut?“ atau semacamnya. Sebaiknya Anda tidak berharap anak buah akan langsung memberi kan feedback-nya setelah Anda bertanya. Perlu waktu agar informasi mengalir dan Anda dapat mengajukan perta nyaan yang lebih tajam.

Contoh Konkret 


Berikan contoh konkret pada karyawan bagaimana mem berikan umpan balik. Lakukan dengan cara yang sama se perti yang Anda ingin mereka lakukan pada Anda. Ajari juga cara menerima feedback yang benar. Ketika anak buah memberitahu bahwa Anda tidak cukup efisien dalam mendelegasikan tugas-tugas, tindaklanjuti dengan meminta contoh. Hal ini membantu Anda me mahami umpan balik mereka dan memastikan bahwa apa yang Anda dengar sudah tepat. Karyawan yang bisa memberikan feedback disertai banyak contoh konkret atau angka-angka, kemungkinan ia bicara jujur sangat tinggi.

Membaca Yang Tersirat 


Tentu saja, Anda mungkin tidak setiap kali mendapatkan umpan balik yang jujur. Walaupun demikian, tugas Anda untuk mencari tahu apa kesulitan anak buah yang men coba untuk membantu Anda mengidentifikasi permasa lahan.

Anda mungkin perlu melakukan cross-check antara be berapa poin umpan balik. Misalnya, dengan menanyakan pertanyaan yang sama pada lima atau enam karyawan lain. Anda sebaiknya mencoba untuk mengumpulkan data sehingga Anda dapat menyusun potongan-potongan fe edback dengan tepat. Hal tersebut juga membantu Anda mengetahui apakah ada kesenjangan dan inkonsistensi dari feedback yang dilemparkan pada Anda dan apa tin daklanjutnya.

Hargai Umpan Balik


Jika ada anak buah yang cukup berani memberikan feed back, hargai hal tersebut. Orang-orang tidak senang me ngetahui bahwa masukkannya dianggap tidak berguna. Anda harus benar-benar berterima kasih kepada mereka yang melakukan hal itu, dan jadikan ia sebagai contoh bagi karyawan lainnya. Tunjukkan pada semua orang bah wa Anda mampu menerima umpan balik dengan baik dan hal itu dapat mengubah perilaku Anda. Contoh-contoh yang Anda tunjukkan tersebut akan menular dan mendo rong lebih banyak orang untuk memberikan umpan balik yang konstruktif.

Cari Orang yang Terpercaya 


Barangkali Anda menduga bahwa anak buah tidak berani berkata terus terang, atau umpan balik dilakukan hanya untuk menyenangkan Anda. Dalam situasi ini, cari satu atau dua orang yang bisa Anda percayai untuk mengata kan yang sebenarnya. Bisa jadi seseorang dalam tim, re kan, atau mentor. Siapa pun itu, pastikan ia memiliki akses ke data yang tepat dan mampu berbicara dengan orang orang yang berinteraksi dengan Anda setiap hari.

Mulai dengan Anonim 


Beberapa orang memiliki sifat malu, sungkan atau sulit terbuka. Salah satu cara untuk mendapatkan feedback dari orang-orang seperti ini adalah dengan memberi pelu ang pada mereka untuk memberikan umpan balik secara anonim, dan kemudian menanggapinya. Secara berang sur-angsur, anak buah yang melihat bahwa Anda terbuka terhadap kritik, ia akan lebih nyaman memberitahu Anda langsung. Banyak orang merasa lebih nyaman memberi kan umpan balik secara langsung ketika tahu ia dianggap serius.

dirgahayuindonesiaku.id

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Terbuka akan masukan"

Post a Comment